
Prilly Latuconsina Di Semprot Label “Pick Me”, Apa Maksudnya?
Prilly Latuconsina Di Semprot Label “Pick Me”, Apa Maksudnya Dari Istilah Tersebut Yang Kerap Di Lontarkan Orang. Nama Prilly Latuconsina kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Kali ini bukan soal film atau serial terbaru. Namun melainkan unggahannya di LinkedIn yang memicu pro dan kontra. Dan aktris berusia 29 tahun itu mendadak ramai di sorot setelah mengaktifkan badge #OpenToWork. Terlebih mennadi sebuah penanda bahwa seseorang terbuka terhadap peluang kerja baru. Alih-alih mendapat dukungan penuh, langkah tersebut justru memancing beragam reaksi. Serta yang termasuk munculnya label “pick me” yang d itempelkan sebagian warganet. Fenomena ini menarik karena melibatkan irisan antara dunia profesional, citra publik figur. Dan budaya komentar netizen di media sosial. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi dan mengapa istilah “pick me” ikut menyeret nama Prilly Latuconsina?
Awal Mulanya Pasang #OpenToWork Di LinkedIn
Sorotan terhadap sosoknya ini bermula pada akhir Januari 2026. Saat itu, ia mengunggah status di LinkedIn dengan mengaktifkan badge #OpenToWork. Kemudian hanya beberapa hari setelah mengumumkan pengunduran dirinya dari rumah produksi Sinemaku Pictures. Dalam unggahannya, oa menyampaikan keinginannya untuk mencari tantangan baru. Tentunya di luar industri hiburan sekaligus memperluas jejaring profesional. Langkah ini terbilang tidak lazim bagi seorang figur publik dengan karier mapan. Namun, ia tampak ingin menegaskan bahwa dirinya juga seorang profesional yang terbuka terhadap peluang lintas bidang. Unggahan tersebut pun langsung di banjiri ribuan permintaan koneksi. Kemudian juga dengan komentar, dan pesan pribadi dari pengguna LinkedIn. Di sisi lain, unggahan ini meluber ke platform media sosial lain. Di sinilah respons publik mulai terbelah antara yang mengapresiasi keberaniannya. Dan yang justru mempertanyakan motif di balik langkah tersebut.
Pro Dan Kontra Netizen: Antara Apresiasi Dan Sindiran
Sebagian warganet memujinya sebagai figur publik yang berani keluar dari zona nyaman. Mereka menilai keputusan mengaktifkan #OpenToWork sebagai sikap rendah hati dan realistis. Terlebihya bahwa setiap orang berhak mencari peluang baru tanpa terikat label masa lalu. Namun, tidak sedikit pula yang melontarkan sindiran. Ada yang menganggap langkahnya sekadar pencitraan. Namun ada pula yang menilai unggahan tersebut tidak sensitif terhadap realitas pencari kerja pada umumnya. Dari sinilah istilah “pick me” mulai bermunculan di kolom komentar dan unggahan reaksi netizen. Label tersebut kemudian menyebar cepat, menimbulkan perdebatan baru yang bahkan melampaui konteks unggahan LinkedIn itu sendiri.
Apa Itu Istilah “Pick Me” Yang Di Lekatkan Ke Prilly?
Istilah “pick me” awalnya populer di media sosial untuk menggambarkan seseorang yang di anggap terlalu berusaha mencari validasi atau pengakuan. Kemudian yang seringkali dengan cara menonjolkan diri agar “di pilih” atau di sukai orang lain. Dalam konteks modern, label ini kerap di gunakan secara sinis, terutama kepada perempuan. Ketika di lekatkan padanya, sebagian warganet menilai ia dianggap ingin terlihat berbeda atau lebih “merakyat”. Jika di bandingkan dengan figur publik lain. Padahal, istilah ini sangat subjektif. Kemudian seringkali lebih mencerminkan persepsi penilai daripada niat orang yang di nilai. Penggunaan label “pick me” juga menuai kritik. Karena di nilai berpotensi mereduksi pilihan profesional seseorang menjadi sekadar pencarian perhatian. Tentunya tanpa memahami konteks dan tujuan sebenarnya.
Antara Ruang Profesional Dan Budaya Menghakimi
Kasusnya ini membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana ruang profesional. Tentunya seperti LinkedIn kini tak lepas dari budaya menghakimi ala media sosial. Platform yang seharusnya menjadi tempat berbagi peluang kerja. Dan jejaring profesional justru ikut terseret ke dalam arus komentar personal. Keputusannya mengaktifkan #OpenToWork sejatinya adalah hak individu. Namun, statusnya sebagai publik figur membuat setiap langkahnya mudah di tafsirkan beragam. Di sinilah batas antara pilihan karier dan persepsi publik menjadi kabur. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana istilah-istilah populer seperti “pick me” bisa di gunakan secara serampangan.
Bahkan tanpa pemahaman konteks yang utuh. Bagi sebagian orang, label tersebut mungkin terdengar ringan. Akan tetapi bagi yang menerimanya, bisa menjadi stigma yang tidak adil. Pada akhirnya, kontroversi ini menegaskan satu hal. Tentunya dengan langkah profesional seseorang, siapa pun dia, selalu berpotensi di pelintir di era media sosial. Kisahnya bukan hanya soal #OpenToWork atau label “pick me”. Namun melainkan cermin bagaimana publik menanggapi pilihan hidup. Dan juga dengan karier orang lain di ruang digital yang serba terbuka.
Jadi itu dia fakta dan arti dari pick me yang kini di lekatkan pada sosok Prilly Latuconsina.