Pertamina

Pertamina Kirim Bahan Bakar Pesawat Dari Minyak Jelantah

Pertamina Kirim Bahan Bakar Pesawat Dari Minyak Jelantah Dan Hal Ini Tentu Menjadi Avtur Yang Mengurangi Emisi Karbon. Saat ini Pertamina melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan Pertamina Patra Niaga, telah mengirimkan bahan bakar pesawat yang sebagian kandungannya berasal dari minyak jelantah. Produk ini dikenal sebagai Sustainable Aviation Fuel (SAF), yaitu avtur ramah lingkungan yang dihasilkan melalui proses pengolahan minyak jelantah dan bahan baku nabati lain. Pada pengiriman perdananya, SAF diproduksi di Kilang Cilacap dengan kapasitas sekitar 1.200 hingga 1.400 kiloliter per hari. Dari jumlah tersebut, 2 hingga 3 persen kandungannya berasal dari minyak jelantah. Pada tahap awal, SAF ini digunakan untuk penerbangan maskapai Pelita Air dengan rute Jakarta–Denpasar.

Proses pembuatan SAF dari minyak jelantah di lakukan dengan teknologi co-processing berbasis HEFA (Hydroprocessed Esters and Fatty Acids). Metode ini memungkinkan minyak jelantah di campur dengan bahan bakar fosil dalam kilang, lalu di olah menjadi avtur yang memenuhi standar internasional untuk penerbangan. Dengan teknologi ini, tidak perlu membangun kilang baru, karena fasilitas pengolahan avtur yang ada sudah bisa di gunakan untuk memproduksi SAF.

Untuk memastikan pasokan minyak jelantah, Pertamina membangun rantai pasok terintegrasi. Minyak jelantah di kumpulkan dari masyarakat melalui SPBU yang berfungsi sebagai titik pengumpulan, serta dari pengumpul besar yang bekerja sama dengan Pertamina. Saat ini terdapat puluhan SPBU yang telah menjadi lokasi pengumpulan, dan jumlahnya akan di perluas ke ribuan titik termasuk Pertashop. Sistem ini mendukung konsep circular SAF ecosystem, di mana limbah rumah tangga seperti minyak jelantah di ubah menjadi bahan bakar bernilai tinggi. SAF berbasis minyak jelantah ini juga telah melalui sertifikasi internasional seperti ISCC CORSIA dan lulus inspeksi JIG (Joint Inspection Group) untuk menjamin kualitas dan keamanan.

Pertamina Mengolah Minyak Jelantah Menjadi Avtur Ramah Lingkungan

Pertamina Mengolah Minyak Jelantah Menjadi Avtur Ramah Lingkungan yang di kenal sebagai Sustainable Aviation Fuel (SAF). Proses ini di mulai dari pengumpulan minyak jelantah dari berbagai sumber, seperti rumah tangga, restoran, hotel, dan industri makanan. Pertamina membangun jaringan rantai pasok terintegrasi, dengan SPBU dan Pertashop sebagai titik pengumpulan, serta bekerja sama dengan pengumpul skala besar. Minyak jelantah yang terkumpul kemudian melalui tahap penyaringan awal untuk menghilangkan kotoran dan sisa makanan, sebelum dikirim ke kilang pengolahan.

Di kilang, minyak jelantah di olah menggunakan teknologi co-processing berbasis metode Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA). Dalam metode ini, minyak jelantah di campur dengan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dalam unit pengolahan yang sama. Campuran ini kemudian di proses melalui hidrogenasi, yaitu reaksi kimia yang menggunakan gas hidrogen untuk mengubah asam lemak dalam minyak jelantah menjadi rantai hidrokarbon yang memiliki sifat mirip avtur. Proses ini juga melibatkan tahap hidrodesulfurisasi untuk mengurangi kadar sulfur, sehingga menghasilkan bahan bakar yang lebih bersih.

Keunggulan teknologi co-processing adalah tidak memerlukan pembangunan kilang baru, karena memanfaatkan fasilitas pengolahan avtur yang sudah ada. Hasil akhir dari proses ini adalah avtur berstandar internasional yang dapat di gunakan langsung pada pesawat tanpa modifikasi mesin. Kandungan minyak jelantah dalam SAF Pertamina saat ini sekitar 2 hingga 3 persen, dan bisa di tingkatkan seiring perkembangan teknologi serta ketersediaan bahan baku. Selain ramah lingkungan, produksi SAF dari minyak jelantah membantu mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan. Avtur jenis ini memiliki emisi karbon yang lebih rendah di bandingkan avtur fosil murni, sehingga berkontribusi pada target pengurangan emisi sektor penerbangan.

Mendukung Transisi Energi Bersih

Inovasi Pertamina dalam mengubah minyak jelantah menjadi avtur ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) memiliki peran penting dalam Mendukung Transisi Energi Bersih di sektor penerbangan. Selama ini, transportasi udara menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar, terutama karena ketergantungan penuh pada bahan bakar fosil. Dengan kehadiran SAF, sebagian porsi avtur konvensional dapat di gantikan oleh bahan bakar berbasis sumber terbarukan. Hal ini secara langsung membantu menurunkan emisi gas rumah kaca yang di hasilkan penerbangan, sekaligus mengurangi jejak karbon dari industri aviasi.

Penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku memberikan nilai tambah ganda. Pertama, limbah yang biasanya berakhir mencemari lingkungan dapat di manfaatkan menjadi energi. Kedua, rantai pasok bahan baku ini dapat memberdayakan masyarakat, UMKM, hingga sektor industri makanan yang sebelumnya membuang minyak bekas tanpa nilai ekonomis. Melalui sistem pengumpulan terintegrasi, Pertamina membangun ekosistem ekonomi sirkular yang selaras dengan prinsip transisi energi berkelanjutan. Semakin banyak minyak jelantah yang terkumpul, semakin besar potensi SAF yang dapat di produksi, dan semakin tinggi pula kontribusi terhadap pengurangan emisi.

Secara strategis, inovasi ini membantu Indonesia memenuhi target pengurangan emisi nasional dan komitmen global dalam kesepakatan iklim, termasuk mendukung rencana net-zero emission. SAF dari minyak jelantah mampu mengurangi emisi hingga puluhan persen di bandingkan avtur fosil, tergantung komposisi campurannya. Teknologi co-processing berbasis HEFA juga memungkinkan skala produksi besar. Tanpa membangun infrastruktur baru, sehingga percepatan transisi bisa di lakukan dengan biaya lebih efisien.

Sebagai Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil

Bioavtur, atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis minyak jelantah, memiliki potensi besar Sebagai Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil di sektor penerbangan. Selama ini, industri aviasi hampir sepenuhnya bergantung pada avtur fosil yang menyumbang emisi karbon dalam jumlah signifikan. Bioavtur hadir sebagai solusi karena di produksi dari sumber terbarukan, sehingga dapat menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan. Dalam penggunaannya, bioavtur memiliki sifat fisik dan kimia yang setara dengan avtur fosil. Sehingga dapat di gunakan langsung pada mesin pesawat tanpa memerlukan modifikasi. Hal ini membuat proses transisi menjadi lebih praktis dan efisien bagi maskapai maupun operator penerbangan.

Potensi bioavtur semakin kuat karena Indonesia memiliki sumber bahan baku yang melimpah. Terutama minyak jelantah yang di hasilkan dari rumah tangga, restoran, hotel, dan industri makanan. Dengan rantai pasok yang terkelola baik, minyak jelantah dapat di olah menjadi energi bernilai tinggi. Sekaligus mengurangi limbah yang mencemari lingkungan. Pertamina melalui teknologi co-processing berbasis HEFA mampu memproduksi bioavtur berkualitas internasional dengan memanfaatkan fasilitas kilang yang sudah ada. Ini berarti kapasitas produksi dapat di tingkatkan secara bertahap tanpa investasi besar untuk membangun kilang baru.

Dari sisi lingkungan, bioavtur mampu mengurangi emisi karbon hingga puluhan persen di bandingkan avtur fosil. Tergantung persentase campuran yang di gunakan. Jika proporsi bioavtur di perbesar, kontribusinya terhadap pengurangan emisi global dari sektor penerbangan akan semakin signifikan. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mencapai target net-zero emission dan mendukung agenda transisi energi global.

Lebih dari itu, adopsi bioavtur juga membuka peluang ekonomi baru. Rantai pasok pengumpulan minyak jelantah dapat melibatkan masyarakat luas, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi sirkular. Dengan dukungan regulasi, insentif, dan kerja sama industri, bioavtur berpotensi menjadi pilar utama pengganti avtur fosil di masa depan. Maka dari itu hal ini di kembangkan oleh Pertamina.