
Papua Terancam Jadi Sumatera Kedua Karena Langganan Kebakaran Gambut Sehingga Menjadi Urgensi Penyelamatan Lingkungan. Saat ini Papua Terancam padahal selama ini dikenal sebagai wilayah dengan ekosistem hutan hujan tropis terluas di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah titik kebakaran lahan dan hutan mulai muncul di wilayah selatan Papua, terutama di Merauke dan Mappi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Papua bisa berubah menjadi “Sumatera kedua”, yakni wilayah yang juga pernah mengalami kerusakan parah akibat kebakaran gambut dan deforestasi besar-besaran. Padahal, hutan Papua selama ini berperan penting sebagai paru-paru terakhir Indonesia, menyimpan cadangan karbon besar, serta menjadi rumah bagi ribuan spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain.
Penyebab utama meningkatnya risiko kebakaran gambut di Papua adalah ekspansi lahan untuk proyek pertanian skala besar seperti food estate dan perkebunan sawit. Pembukaan lahan dengan cara dikeringkan untuk memudahkan penanaman justru membuat lapisan gambut kehilangan kelembaban alaminya. Akibatnya, ketika musim kemarau tiba, lahan tersebut menjadi sangat rentan terbakar bahkan oleh percikan api kecil. Di beberapa daerah, praktik pembakaran untuk membersihkan lahan juga masih terjadi, meski secara hukum di larang. Kondisi ini di perparah dengan lemahnya pengawasan dan minimnya kesiapan peralatan pemadam di wilayah terpencil Papua.
Jika pola ini terus berlanjut, Papua akan kehilangan keistimewaannya sebagai benteng terakhir hutan tropis Indonesia. Dampaknya tidak hanya pada ekosistem, tetapi juga terhadap masyarakat adat yang bergantung pada hutan untuk hidup. Hilangnya hutan dan rusaknya gambut akan mengganggu sumber air, menurunkan hasil pertanian lokal, serta memperburuk kualitas udara. Pengalaman Sumatera dan Kalimantan seharusnya menjadi pelajaran berharga, di mana kerusakan gambut memicu kabut asap lintas negara dan kerugian ekonomi besar.
Kebakaran hutan dan lahan gambut di Papua memberikan Dampak Terhadap Lingkungan Dan Kehidupan Masyarakat lokal. Ketika api melahap kawasan hutan, bukan hanya pepohonan yang hilang, tetapi juga keanekaragaman hayati yang selama ini menjadi ciri khas Papua. Banyak satwa endemik seperti cenderawasih, kasuari, dan kanguru pohon kehilangan habitat alaminya. Kerusakan ini mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam populasi spesies yang sudah langka. Selain itu, tanah gambut yang terbakar melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer, mempercepat perubahan iklim dan memperburuk kondisi lingkungan global.
Bagi masyarakat lokal, terutama komunitas adat yang hidup bergantung pada hutan, dampaknya jauh lebih berat. Hutan bagi mereka bukan sekadar sumber bahan makanan atau kayu, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan spiritual. Ketika hutan terbakar, mereka kehilangan lahan berburu, sumber air bersih, serta tanaman obat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Asap tebal dari kebakaran juga menyebabkan gangguan kesehatan seperti sesak napas, batuk, dan infeksi saluran pernapasan. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan, sementara fasilitas kesehatan di daerah pedalaman sering kali tidak memadai untuk menampung korban dalam jumlah besar.
Selain dampak kesehatan dan sosial, kebakaran juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Lahan pertanian yang hangus membuat warga kehilangan sumber penghasilan. Banyak nelayan sungai juga terdampak karena air menjadi tercemar akibat abu dan lumpur dari lahan terbakar. Aktivitas ekonomi terganggu, harga kebutuhan pokok melonjak, dan masyarakat terpaksa bergantung pada bantuan pemerintah atau lembaga kemanusiaan. Dalam jangka panjang, kebakaran hutan bisa memicu konflik sosial akibat perebutan lahan yang tersisa dan menurunnya daya dukung lingkungan.
Istilah “Papua Terancam Jadi Sumatera Kedua” muncul karena kondisi lingkungan di Papua mulai menunjukkan pola kerusakan yang mirip dengan yang pernah terjadi di Sumatera beberapa dekade lalu. Di Sumatera, deforestasi besar-besaran untuk pembukaan lahan perkebunan sawit dan akasia menyebabkan hutan dan lahan gambut kehilangan fungsi alaminya sebagai penyimpan air dan penyerap karbon. Akibatnya, setiap musim kemarau panjang, wilayah tersebut kerap di landa kebakaran hebat yang sulit di kendalikan. Kini, tanda-tanda serupa mulai terlihat di Papua, terutama di wilayah selatan seperti Merauke dan Mappi, di mana lahan gambut mulai di keringkan untuk proyek pertanian skala besar, termasuk food estate dan perkebunan komersial.
Proses pengeringan gambut yang di lakukan dengan sistem kanal membuat tanah kehilangan kelembapan. Ketika musim kering tiba, gambut yang seharusnya basah menjadi mudah terbakar. Pola ini sama persis seperti yang pernah menghancurkan ekosistem gambut di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Jika hal ini terus berlanjut tanpa pengawasan ketat, Papua berisiko mengikuti jejak Sumatera, yaitu kehilangan jutaan hektare hutan, menghadapi kabut asap berkepanjangan, dan menanggung kerugian ekonomi serta ekologis yang sulit di pulihkan. Padahal, Papua masih menyimpan sekitar 35 persen hutan utuh Indonesia, yang menjadi benteng terakhir dari perubahan iklim dan sumber kehidupan bagi ribuan masyarakat adat.
Ancaman ini bukan hanya soal kebakaran hutan semata, tetapi juga menyangkut perubahan struktur sosial dan ekonomi masyarakat Papua. Ketika lahan mereka di ubah menjadi kawasan industri pertanian, banyak komunitas adat kehilangan ruang hidup dan kearifan lokal mereka perlahan hilang. Jika pemerintah tidak belajar dari pengalaman pahit Sumatera, Papua bisa kehilangan keunggulan ekologisnya dalam waktu singkat.
Urgensi Penyelamatan Lingkungan di Papua kini menjadi isu yang tidak bisa di tunda lagi. Kebakaran hutan dan kerusakan lahan gambut yang mulai meluas menjadi tanda bahwa keseimbangan alam di wilayah timur Indonesia ini sedang berada di titik rawan. Papua selama ini di kenal sebagai salah satu ekosistem paling kaya dan beragam di dunia. Menyimpan ribuan spesies endemik serta cadangan karbon yang sangat besar. Jika hutan Papua terus menyusut akibat deforestasi dan kebakaran. Dampaknya tidak hanya di rasakan oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh seluruh Indonesia bahkan dunia. Hutan Papua berperan penting dalam menjaga iklim global, mengatur siklus air, serta menjadi benteng terakhir dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Kondisi ini menuntut tindakan cepat dan konkret dari berbagai pihak. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan perlindungan lahan gambut dan meninjau ulang proyek-proyek besar. Yang berpotensi merusak ekosistem, seperti ekspansi food estate dan perkebunan sawit. Penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan juga harus di lakukan. Tanpa pandang bulu, termasuk terhadap korporasi besar yang terbukti membuka lahan dengan cara membakar. Selain itu, pemberdayaan masyarakat adat perlu di perkuat karena mereka memiliki pengetahuan tradisional dalam menjaga keseimbangan hutan. Melibatkan mereka dalam pengelolaan sumber daya alam bukan hanya bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal. Tetapi juga strategi efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Kesadaran masyarakat luas juga menjadi faktor penting dalam penyelamatan lingkungan Papua. Dukungan publik terhadap kebijakan hijau, konsumsi yang bertanggung jawab, serta kampanye pelestarian alam. Perlu di gencarkan agar tekanan terhadap ekosistem bisa di kurangi. Papua bukan hanya milik warga setempat, melainkan warisan alam Indonesia yang memiliki peran global. Inilah sebuah urgensi yang harus di lakukan untuk menghindari Papua Terancam.