
Jangan Ikut-Ikutan! Intermittent Fasting Ternyata Punya Risiko
Jangan Ikut-Ikutan! Intermittent Fasting Ternyata Punya Risiko Yang Membahayakan Bagi Sebagian Orang Yang Melakukannya. Intermittent Fasting(IF) belakangan menjadi tren gaya hidup yang ramai di bicarakan. Banyak orang tertarik karena metode ini di anggap praktis. Dan juga yang tidak ribet menghitung kalori, dan sering di kaitkan dengan penurunan berat badan. Tak sedikit pula yang mengaku merasa lebih bugar setelah menjalankannya. Namun, di balik popularitas tersebut, ada sisi lain yang kerap luput dari perhatian. Masalahnya, Intermittent Fasting sering dilakukan secara ikut-ikutan tanpa memahami kondisi tubuh masing-masing. Padahal, metode makan dengan jeda waktu tertentu ini tidak selalu cocok untuk semua orang. Alih-alih mendapatkan manfaat, sebagian justru berisiko mengalami gangguan kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali risiko-risiko yang mungkin muncul sebelum memutuskan menjalaninya. Berikut ini beberapa fakta risikonya yang perlu di ketahui agar tidak salah langkah.
Risiko Gangguan Metabolisme Dan Energi Tubuh
Salah satu risiko paling umum dari hal ini adalah Risiko Gangguan Metabolisme Dan Energi Tubuh. Saat tubuh tidak menerima asupan makanan dalam waktu cukup lama, kadar gula darah bisa turun drastis. Akibatnya, tubuh menjadi lemas, pusing, sulit fokus, bahkan mudah emosi. Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin hanya berlangsung di awal. Namun pada kasus tertentu, gangguan energi bisa terjadi berkepanjangan. Transisi dari pola makan normal ke pola puasa berkala membutuhkan adaptasi yang tidak ringan. Jika tubuh gagal beradaptasi, produktivitas sehari-hari justru bisa menurun. Selain itu, metabolisme tubuh bisa melambat jika asupan nutrisi tidak tercukupi. Alih-alih membakar lemak secara optimal. Maka tubuh justru masuk ke mode “hemat energi”. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko membuat berat badan stagnan. Ataupun bahkan sulit turun meski sudah menjalani puasa berkala.
Masalah Pencernaan Dan Pola Makan Tidak Seimbang
Risiko berikutnya yang sering di abaikan adalah Masalah Pencernaan Dan Pola Makan Tidak Seimbang. Banyak orang yang menjalani intermittent fasting justru makan berlebihan saat jendela makan di buka. Pola “balas dendam” ini bisa memicu sakit perut, kembung, hingga gangguan lambung. Transisi dari menahan lapar ke makan dalam jumlah besar secara tiba-tiba membuat sistem pencernaan bekerja ekstra keras. Jika terjadi berulang, lambung bisa mengalami iritasi. Bagi orang yang memiliki riwayat maag atau masalah asam lambung. Maka risiko ini bisa terasa lebih berat. Tak hanya itu, fokusnya seringkali hanya pada jam makan, bukan pada kualitas makanan. Akibatnya, asupan nutrisi menjadi tidak seimbang. Kekurangan vitamin, mineral. Dan dengan serat dapat terjadi tanpa di sadari, terutama jika menu yang di konsumsi minim gizi.
Dampak Psikologis Dan Risiko Jangka Panjang
Selain fisik, ia juga berpotensi menimbulkan Dampak Psikologis Dan Risiko Jangka Panjang. Pada sebagian orang, pembatasan jam makan dapat memicu stres, kecemasan, dan obsesi berlebihan terhadap makanan. Pola ini berisiko berkembang menjadi hubungan yang tidak sehat dengan makan. Transisi gaya hidup yang terlalu ketat sering membuat seseorang merasa bersalah saat “melanggar” jadwal puasa. Dalam jangka panjang, tekanan mental ini bisa memengaruhi kesejahteraan emosional. Terlebih jika ia di jadikan standar mutlak tanpa fleksibilitas. Lebih jauh lagi, ada risiko jika metode ini di jalani tanpa pengawasan, terutama bagi kelompok tertentu. Tentunya seperti remaja, ibu hamil, atau orang dengan kondisi kesehatan khusus.
Kekurangan nutrisi kronis dapat berdampak pada hormon, imunitas. Dan juga dengan kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, risiko jangka panjang tidak bisa di anggap sepele. Hal ini memang memiliki potensi manfaat, tetapi bukan berarti bebas risiko. Setiap tubuh memiliki kebutuhan dan respons yang berbeda. Apa yang berhasil untuk satu orang, belum tentu cocok untuk yang lain. Daripada ikut-ikutan tren, lebih bijak memahami kondisi diri sendiri dan mempertimbangkan dampak jangka pendek maupun panjang. Transisi menuju pola hidup sehat seharusnya dilakukan secara bertahap, seimbang, dan berkelanjutan. Dengan begitu, tujuan kesehatan bisa tercapai tanpa harus mengorbankan kesejahteraan tubuh dan mental sebelum melakukan Intermittent Fasting.