Parenting VOC

Parenting VOC Membuat Anak Jauh Dari Orangtua

Parenting VOC Membuat Anak Jauh Dari Orangtua Dan Hal Ini Terjadi Karena Kurang Terhubung Secara Emosional. Pada masa kolonial, khususnya era VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), praktik parenting memiliki pola yang berbeda dari konteks modern. VOC adalah perusahaan dagang Belanda yang beroperasi di Nusantara sejak awal abad ke-17. Sistem kerja dan gaya hidup para pegawai VOC sering membuat hubungan orangtua-anak renggang, bahkan memutus ikatan emosional. Banyak pegawai VOC, terutama yang berpangkat, berasal dari Eropa dan bekerja jauh dari tanah kelahiran. Mereka membawa keluarga ke Batavia atau kota pelabuhan lainnya, namun sering kali meninggalkan anak di asrama khusus atau mengirim mereka kembali ke Belanda untuk bersekolah. Tujuannya adalah agar anak mendapatkan pendidikan dan budaya yang dianggap “lebih maju” menurut standar Eropa.

Parenting VOC secara tidak langsung menjauhkan anak dari orangtua. Anak yang dikirim ke Eropa harus menjalani perjalanan laut berbulan-bulan, tanpa komunikasi intensif dengan keluarga. Kondisi ini membuat mereka tumbuh di lingkungan yang berbeda budaya, bahasa, dan nilai. Rasa keterikatan dengan orangtua melemah karena jarak dan kurangnya interaksi. Bahkan, sebagian anak yang kembali ke Hindia Belanda setelah dewasa merasa asing dengan keluarga sendiri.

Selain itu, banyak pegawai VOC yang memiliki jadwal kerja padat, sering berpindah-pindah wilayah, atau terlibat dalam ekspedisi dagang dan militer. Waktu bersama anak menjadi sangat terbatas. Dalam banyak kasus, pengasuhan anak diserahkan kepada pembantu rumah tangga, pengasuh, atau institusi pendidikan. Hal ini membuat pola asuh lebih bersifat formal dan kurang mengedepankan kehangatan emosional.

Faktor sosial juga berperan. Lingkungan kolonial menciptakan stratifikasi sosial yang tajam. Anak-anak pegawai VOC diajarkan untuk menjaga jarak dengan penduduk lokal dan mengikuti norma Eropa. Hal ini membuat mereka tumbuh dengan identitas campuran yang sering membingungkan, serta merasa kurang memiliki kedekatan batin dengan orangtua yang sibuk menjaga status sosial.

Prinsip Parenting VOC Masih Mempengaruhi Pola Asuh Modern

Prinsip Parenting VOC Masih Mempengaruhi Pola Asuh Modern terutama di kalangan keluarga urban dan berpendidikan tinggi. Pada masa VOC, pengasuhan anak sering menekankan disiplin, prestasi akademik, dan pencapaian sosial dibandingkan kelekatan emosional. Orangtua berperan sebagai pengarah hidup anak, menentukan jalur pendidikan dan masa depan mereka, sering tanpa banyak ruang untuk dialog. Pola ini masih terlihat saat ini, di mana sebagian orangtua modern memprioritaskan pendidikan formal, kursus tambahan, dan aktivitas ekstrakurikuler demi “masa depan yang lebih baik”, namun mengorbankan waktu berkualitas bersama anak.

Prinsip VOC yang mengirim anak jauh demi pendidikan juga memiliki kemiripan dengan tren sekarang. Banyak keluarga modern yang mengirim anak ke sekolah berasrama, mengikuti pertukaran pelajar, atau bahkan kuliah di luar negeri sejak usia muda. Tujuannya tetap sama: memberi akses pada pendidikan dan lingkungan yang dianggap unggul. Namun, konsekuensinya adalah berkurangnya interaksi harian, yang berpotensi menciptakan jarak emosional.

Selain itu, pengaruh VOC terlihat pada pola asuh yang menempatkan anak dalam kerangka hierarki yang kaku. Pada masa kolonial, anak di ajarkan untuk patuh tanpa banyak mempertanyakan keputusan orangtua, selaras dengan struktur otoriter yang berlaku di lingkungan VOC. Saat ini, meskipun lebih halus, pola tersebut masih tampak dalam keluarga yang menerapkan otoritas mutlak, di mana suara anak kurang didengar dalam pengambilan keputusan keluarga.

Rasa Takut Berbuat Salah Lebih Dominan

Pada masa VOC, pola pengasuhan anak sangat di pengaruhi oleh disiplin keras yang menjadi ciri khas organisasi tersebut. VOC adalah lembaga dagang dan militer yang mengandalkan ketertiban, aturan kaku, dan hierarki tegas. Prinsip ini merembes ke dalam kehidupan keluarga pegawainya. Anak-anak di besarkan dalam lingkungan yang menuntut kepatuhan mutlak. Kesalahan kecil sering mendapat teguran keras, bahkan hukuman fisik atau pembatasan kebebasan. Orangtua, yang banyak meniru pola kepemimpinan VOC, memandang disiplin ketat sebagai kunci membentuk karakter tangguh dan sukses di masa depan.

Namun, disiplin keras ini memiliki efek samping yang besar terhadap hubungan emosional anak dan orangtua. Anak tumbuh dalam suasana penuh aturan, di mana kasih sayang sering di nyatakan secara terbatas. Banyak orangtua pada masa itu menganggap ekspresi kelembutan berlebihan bisa membuat anak manja dan lemah. Akibatnya, interaksi emosional seperti pelukan, obrolan hangat, atau dukungan verbal jarang terjadi. Anak belajar untuk menekan perasaan, patuh tanpa bertanya, dan menilai hubungan dengan orangtua lebih sebagai kewajiban daripada kedekatan batin.

Kondisi ini di perburuk oleh jarak fisik yang sering terjadi. Pegawai VOC kerap di tugaskan dalam perjalanan panjang atau penempatan jauh. Disiplin yang di terapkan bahkan ketika orangtua tidak ada secara fisik, biasanya di lanjutkan oleh pengasuh atau guru, sehingga anak tetap tumbuh dalam atmosfer otoriter. Rasa Takut Berbuat Salah Lebih Dominandaripada rasa nyaman bersama keluarga.

Pola disiplin keras VOC ini, meskipun zaman sudah berubah, masih meninggalkan jejak pada sebagian pola asuh modern. Beberapa orangtua masih memegang keyakinan bahwa ketegasan berlebihan akan membentuk mental kuat. Mereka fokus pada aturan, target akademik, dan kepatuhan, namun mengabaikan pentingnya membangun koneksi emosional yang sehat. Akibatnya, anak mungkin berprestasi, tetapi merasa tertekan dan kurang dekat dengan orangtua.

Dampak Negatif

Pola asuh ala VOC yang menekankan disiplin keras dan hierarki kaku memang berasal dari ratusan tahun lalu, tetapi Dampak Negatif masih terlihat jelas pada generasi sekarang. Pada masa VOC, anak di bentuk untuk patuh tanpa banyak ruang bagi ekspresi diri. Mereka di besarkan dengan standar tinggi dan hukuman tegas, sehingga rasa takut gagal lebih dominan daripada motivasi alami untuk berkembang. Jejak dari pola ini masih bisa di temukan pada sebagian keluarga modern, di mana orangtua menuntut kesempurnaan akademik atau prestasi tanpa mempertimbangkan kesehatan mental anak.

Banyak orangtua masa kini, terutama di perkotaan, masih mempraktikkan pola asuh yang menitikberatkan pada pencapaian dan kepatuhan ketat. Anak di arahkan mengikuti jadwal padat berisi sekolah, kursus, dan aktivitas terstruktur, mirip seperti pegawai VOC yang hidup dalam aturan ketat. Akibatnya, anak memiliki sedikit waktu untuk bermain bebas, mengeksplorasi minat, atau membangun ikatan emosional santai dengan orangtua. Tekanan ini dapat menimbulkan kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, bahkan depresi pada sebagian anak, sama seperti efek psikologis yang di alami anak-anak pada masa VOC yang jarang mendapatkan dukungan emosional.

Selain itu, warisan pola asuh VOC terlihat dalam hubungan yang dingin antara anak dan orangtua di beberapa keluarga. Orangtua menganggap kasih sayang tidak perlu di tunjukkan secara berlebihan, sehingga komunikasi emosional menjadi minim. Anak tumbuh dengan rasa segan atau takut berbicara jujur kepada orangtua, terutama soal masalah pribadi. Hal ini mirip dengan situasi pada masa kolonial, ketika anak lebih banyak tunduk pada otoritas daripada merasa nyaman untuk berbagi perasaan. Inilah penjelasan mengenai dampak negatif dari Parenting VOC.